Rabu, 26 Mei 2010

March 16, 2010 in My Hometown


Rembang...A remote area....

Pada tanggal 16 Maret 2010 kemarin-tanggal merah tuh-aku, suami, dan satu teman [Lei] mengunjungi Taman Rekreasi Pantai Kartini. Sehari sebelumnya kami sempat "berdebat", bingung mutusin, kota atau lokasi mana yang akan kami pilih untuk mengisi satu hari libur. Kudus, Lamongan, Semarang ... Hffff... Setelah kami pikir-pikir, karena waktu cuma sehari, daripada waktu habis di jalan, akhirnya kami putuskan untuk stay di Rembang saja.


After washing some clothes [Lei sent me sms before that she asked me out to go to beach-Kartini Beach], Benny-my husband-and I headed for Lei's base camp by bicycle. Di rumah kami sempat bingung.


"Kita mo ngapain ya, Mas, di pantai? Sepi gitu. Masa' mo berjemur? Kan uda item..hehe..."
"Ya udah, deh..Nurut aja...".


Kami nitip sepeda di base camp Lei. Ke pantai, kami menggunakan dokar. Kebetulan base camp dia dekat dengan pasar Kota Rembang. Banyak kuda penarik kereta [jiaaaaaahhh...sok eksklusif bahasanya ^_^]], sekalian ngenalin ke dia alat transportasi yang mungkin gak bakal ditemui di hometownnya [secara...dia dari Chengdu, China]. Uhhhh....Sepanjang jalan semua orang nengok ke dia...ne ada "bule" kesasar kali ya...:-D


Setelah bayar sang kusir sebesar enam ribu rupiah, kami mulai memasuki pelataran parkir taman [masih di luar tuh]. Benny cari air mineral botol dua buah buat bekal di dalam lokasi rekreasi.


Tiket masuk waktu itu empat ribu rupiah per kepala [abis tu naik jadi enam ribu per gundul, sekarang turun lima ribu rupiah per batok hehe...bingung...ne tiket gak pernah jelas]. Alangkah terkejutnya aku setelah mengetahui isi taman. Sudah nggak seperti dulu lagi...Sekarang sudah lumayan banyak arena bermain buat anak-anak ataupun dewasa [meskipun tiap kali memanfaatkan fasilitas tersebut kita musti bayar lagi sesuai tarif...ya eyalaaaah...masa' mo gratisan mulu...PNS aja bayar :-D]. Dalam hati aku bersyukur bahwa Rembang sudah mengalami perubahan dan bukan kota yang super mati seperti di jaman baheula. Setelah tanya sama seorang petugas wahana rekreasi Dampo Awang Beach ini [dia yang ngawal kami bertiga, termasuk motretin kami, waktu naik Banana Boat-Rp.15.000,- each person], ternyata pengadaan banana boat, flying fox, waterball, dan arena bermain lainnya sudah dimulai kurang lebih sejak dua bulan yang lalu [terhitung sejak 16 Maret 2010]. Dalam hati, wedewwwww...katrok juga ya aku. Tahunya cuma PLTU dengan batubara terpampang luas dalam sekian hektar...T_T


Akhirnya pilihan pertama jatuh pada flying fox. Kloter pertama berangkat, Benny. Kedua, Lei. Ketiga, sang penulis. Dua kloter pertama mendarat dengan sukses. Nah, kloter ketiga...wuwuwuwuwu...uda hampir sampai, hook-nya nggak mo jalan. Untung petugasnya baik [haiaaaaaaaaah...gak pa-pa lah sekali-kali ngelem, bukan menghujat trus :-p]. Usut punya usut, "Emang berat mbaknya berapa? Kok gak mau jalan?" Aku menjawab sambil cengar-cengir. "Hehe, malu ditanyain berat." Harusnya aku masuk ke arena flying fox-outbound untuk anak-anak saja haha.


Sesi berikutnya kami daftar ke loket Banana Boat. Sambil nunggu lifejacket-nya terkumpul, kami duduk-duduk menikmati semilir angin pantai sambil ngemil. Setelah pelampung ada, prikitiewwww...petugas bilang, "Mas dan Mbaknya bawa baju ganti, nggak? Tar basah semua lho!". Wah..wah..o'on juga kita...mo nyeburin diri ke laut nggak bawa baju ganti...Apa kata duniaaaa???


Akhirnya kami putuskan untuk sewa baju renang di loket kolam renang, dekat loker, sekalian titip tas, HP, dompet, dan baju yang sebelumnya nempel di badan. Sambil berjingkat-jingkat saking panasnya telapak kaki kami waktu menginjak tanah akibat sengatan sinar surya, kami berjalan turun ke laut. Semua lengkap. Baju renang, pelampung, dan kamera. Ambil foto dulu sebelum di-lheb-lhebin ke air. hehe...


Gilaaaaa...First adventure [biarin...orang aku gak bisa renang :-p]. Hampir mampus rasanya tenggelam dalam air. Mulut, telinga...semua full air asin...Tiga kali [atau mungkin lebih] kami dibanting oleh motorboat. Mau sekencang apapun kami pegang kendali, nggak ada artinya haha...Terakhir bantingan, kami dibiarkan oleh petugas yang bawa motorboat...Sial hehe...


Lalu kami naik dari laut menuju kolam renang, nyeburin diri lagi. Di situ kami lebih banyak ngobrolnya sembari membasuh rambut yang kering oleh air laut. Bingung lagi. Lepas dari kolam kami mau pakai daleman [baju dalam, breast holder & cd-red] apa???? Akhirnya aku dan Lei "memaksa" Benny untuk ganti baju dulu kemudian beli "perkakas" tersebut. Poor Benny :((


Kami pulang setelah mendapatkan "perkakas" itu [mpe kering nungguin dapet 'itu'. Hehe..thanks very much, anyway^-^]. Nggak mandi atau sekedar basuh2 lagi...[Ih jorse :-D]
Lanjut cari makan siang di RM Kanton. Setelah kenyang, kami masih belum puas menghabiskan liburan yang cuma sehari itu. Benny called Cafe Kirani. Lei recommended. Kami berangkat kesana untuk nyanyi-nyanyi nggak jelas. Yang penting enjoy. Bus Sarang Tayu jadi pilihan transportasi [emang adanya cuma itu hehe...nggak ding @_@]. Puas di sana selama kurang lebih dua jam, kami balik. Naik apa ya??? Hfffffffffff...Untung jam 5 sore-mungkin lebih-ada bus kecil. Turun samping Hotel Kencana, jalan ke pasar. Lumayan...lumayan jauuuuuuuuuuhhhh...Sampai base camp pas magrib. So tired T_T but fun ^_^.

Jumat, 21 Mei 2010

Lagu dan Kord Gitar ” Your Love is A Lie “ - Artis ” Simple Plan “

Em G
I fall Asleep By The Telephone/
D A Em
Its Two Oclock and Im Waiting Up Alone
G D A
Tell Me
Where Have You Been?
Em G
I found A Note With Another Name
D A Em
You Blow A Kiss But It Just Dont feel The Same
G D
cuz I Can feel That Youre Gone
C G D G
I Cant Bite My Tongue forever
While You Try To Play It Cool
C G D
You Can Hide Behind Your Stories
But Dont Take Me for A fool!

Em G D C D
You Can Tell Me That Theres Nobody Else
Em G D C D
You Can Tell Me That Youre Home By Yourself
Em G D G C D
You Can Look Into My Eyes and Pretend All You Want
But I Know
I Know
Em G D A
Your Love is Just A Lie!
Em G D A
Its Nothing But A Lie!

Em G
You Look So Innocent

D A
But The Guilt in Your Voice Gives You Away
Em G D A
Yeah
You Know What I Mean
Em G
How Does It feel When You Kiss When You Know That I Trust You
D A
And Do You Think About Me When He fucks You?
Em G D
Could You Be More Obscene?
C G D G
So Dont Try To Say Youre Sorry
Or Try To Make It Right
C G D
And Dont Waste Your Breath Because Its Too Late
Its Too Late!

Em G D C D
You Can Tell Me That Theres Nobody Else
Em G D C D
You Can Tell Me That Youre Home By Yourself
Em G D G C D
You Can Look Into My Eyes and Pretend All You Want
But I Know
I Know
Em G D A
Your Love is Just A Lie!
Em G D A
Its Nothing But A Lie!

Em G D C D
You Can Tell Me That Theres Nobody Else
Em G D C D
You Can Tell Me That Youre Home By Yourself
Em G D G C D
You Can Look Into My Eyes and Pretend All You Want
But I Know
I Know
Em G D A
Your Love is Just A Lie!
Em G D A
Its Nothing But A Lie!

Kamis, 20 Mei 2010

TK ABA 04 Semarang Tanamkan Akidah Islam dan Wawasan Umum

TK ABA 04 yang terletak di Jalan Wonodri Baru VI No. 18-19 Semarang ini merupakan salah satu bentuk amal usaha ’Aisyiyah Ranting Wonodri Cabang Semarang Selatan, di samping Taman Pendidikan Al-Quran At-Taqwa ‘Aisyiyah dan Kelompok Bermain ‘Aisyiyah 02. Sekolah ini menyelenggarakan dua kegiatan, yakni kegiatan rutin dan penunjang. Kegiatan rutin berupa kegiatan belajar mengajar di kelas, doa di sekolah, upacara 17 Agustus, 10 kali praktek ibadah selama semester II, terbagi menjadi 5 kali di sekolah dan 5 kali di masjid. Kegiatan penunjang direalisasikan dalam ekstrakurikuler seperti drumband, menari, Bahasa Inggris, komputer, menggambar, dan sempoa. Khusus sempoa diadakan setelah jam pelajaran usai serta diperuntukkan bagi yang berminat saja. Di samping itu, TK ini juga mengadakan outbond, peringatan hari besar Islam, mengenalkan program polisi sahabat anak, serta kunjungan ke tempat-tempat penting seperti PIP/BPLP Semarang, kantor pos, dan museum. Sebagaimana dikemukakan oleh Kepala TK, Dra Nadhifah, kunjungan tersebut ditujukan untuk memberikan tambahan wawasan kepada peserta didik selain dasar akidah Islam yang diperoleh dari kegiatan keagamaan. Dengan demikian tujuan sekolah yang ingin membentuk akhlak dan kepribadian anak sesuai dengan nilai-nilai islam, mengembangkan kemampuan dasar anak secara optimal, serta menuntun anak agar mampu melaksanakan praktek ibadah bisa tercapai. Kegiatan lain yang senantiasa diadakan sekolah di antaranya adalah Hari Kartini setiap 2 tahun sekali di mana siswa mengenakan kostum daerah yang dilanjutkan dengan lomba fashion show. Juga, program gosok gigi satu minggu sekali untuk semester 2 dan makan bersama setiap sabtu. Dana ditanggung oleh pihak sekolah.

TK ini menetapkan rentang umur peserta didik minimal 3,8 tahun. Namun, rata-rata siswa berusia 4 tahun ke atas. Dari tahun ke tahun jumlahnya selalu memenuhi target. Tahun 2007 ini sekolah memiliki 172 siswa yang terbagi menjadi 8 kelas, yakni kelas A (4 kelas) yang melaksanakan KBM dari jam 07.15 hingga 10.00 WIB dan kelas B (4 kelas) dari pukul 07.15 sampai 11.00 WIB. Tenaga pendidik terdiri atas 8 guru kelas reguler, 4 guru TPQ, serta kepala sekolah. Lulusan TK ABA 04 ini banyak diterima di SD favorit seperti SD Sompok dan SD Al Firdaus Semarang. Fasilitas yang disediakan cukup menarik, di antaranya alat bermain luar dan dalam serta perpustakaan untuk semester 2, sedangkan semester 1 masih dalam tahap pengenalan.

Telah banyak prestasi yang diraih oleh TK ini. Mayoritas dari lomba mewarnai. Namun, dalam partisipasi kegiatan, Dra Nadhifah menuturkan, ”Kita lebih selektif. Tidak semua kegiatan kita ikuti”. Dalam Bulan Ramadlan tahun ini, sekolah mengadakan kotak amal setiap hari. Tanggal 25 – 26 kemarin para siswa juga melakukan kunjungan pendidikan ke kantor pos. Sebelumnya mereka membuat kartu lebaran untuk selanjutnya dikirim via pos. Di samping itu, adanya panitia zakat fitrah di mana para siswa sendiri yang akan menyerahkan zakat tersebut kepada kaum dhuafa serta praktik solat idul fitri juga menjadi aktivitas rutin menjelang lebaran. (eby/ny)

SD Pleburan 03 Semarang - Sekolah Rindang Sarat Prestasi

Jumat, 07 Mei 2010

BLANCO SANG JUARA

Blanco nama pemuda kecil itu. Tinggi badannya rata-rata anak Indonesia yang tengah berumur 12 tahun. Dia hidup bersama pamannya di sebuah kota. Keduanya adalah pekerja keras. Tuntutan hidup telah membuat mereka tak melewatkan kesempatan yang teramat bagus agar mereka bisa terus bertahan hidup. Blanco bukanlah anak dari kalangan orang berada. Kedua orang tuanya telah lama meninggal dunia di saat dia masih berumur tujuh tahun. Tiap hari ia harus berjuang keras agar terus mampu melanjutkan sekolah, sebab pamannya telah menekankan betapa pentingnya pendidikan bagi kehidupan Blanco kelak meski sang paman sendiri tak pernah mengenyam bangku sekolah.

Selepas pulang sekolah, Blanco kerap menjadi loper koran, sedangkan pamannya menjadi buruh pada pabrik kayu dengan penghasilan yang terbilang tidaklah seberapa. Namun, keduanya merasa bahagia. Bahkan, walaupun lelaki, Blanco sangat pandai memasak. Sang paman memanfaatkan lahan yang tidak begitu luas di samping rumahnya untuk menanam sayuran dan bumbu dapur lainnya.

Dari pekerjaannya sebagai loper koran, Blanco mendapatkan banyak informasi sebab ia selalu mencuri-curi kesempatan untuk terus mengikuti berita hangat di negeri ini melalui koran yang dibagikan khusus kepada dirinya oleh sang pemilik agen. Pak Tomy, pemilik agen, sangatlah terkesan dengan Blanco karena pemuda kecil ini sangat rajin, jujur, dan tidak pernah sedikitpun mengeluh. Bahkan beliau senantiasa memuji Blanco karena anak yang satu ini tergolong cerdas. Oleh karena itu, Pak Tomy selalu menghadiahkan satu koran di samping ‘gaji’ untuknya.

“Bapak lihat kamu sangat rajin, jujur, dan tak pernah mengeluh. Ambillah satu koran agar kamu senantiasa memperoleh informasi ter up-to-date”, kata Pak Tomy dengan penuh kelembutan.

“Terima kasih, Pak. Semoga Allah senantiasa membalas budi baik Bapak,” sahut Blanco.

Suatu hari, sambil menjajakan korannya, Blanco sempat membaca berita bahwa ada sekelompok warga tinggal di bawah naungan sampah yang begitu menggunung. Entah berapa meter tingginya. Ketika hendak direlokasi, warga menolak dengan alasan hanya di situlah mereka bisa mengais rezeki. Tak berselang beberapa hari dari tawaran itu, terjadi bencana yang benar-benar membuat warga tersebut kehilangan kerabat dan rumah-rumah reyot mereka. Bukit sampah longsor dan menimbun rumah-rumah warga di pagi buta tatkala semua orang masih terlelap dalam mimpi. Blanco terhenyak sesaat, kemudian menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Dia merasa sangat prihatin dengan keadaan mereka.

“Sampah ternyata telah membawa malapetaka. Seandainya saja mereka sedikit sadar kalau sampah, terutama plastik, akan sangat merugikan, tentu mereka tidak akan bertindak sebodoh ini ketika ditawari akan direlokasi”, gumamnya.

Setelah kejadian itu, di sela-sela kegiatan sekolah dan loper koran, Blanco memutar otak bagaimana caranya agar warga sekitar sadar akan bahaya sampah. Dia mulai menyisihkan sebagian kecil hasil kerja kerasnya untuk menggunakan jasa internet yang hanya dua ribu rupiah di warnet seberang sekolahnya. Dia menggali informasi dari sana tentang berbagai hal yang bisa dilakukan guna meminimalisasi kuantitas sampah atau limbah. Setelah Blanco mendapatkan beberapa banyak, dia mencoba mempraktikkan, di antaranya melalui kerajinan tangan. Ia mengajak pamannya juga dalam menyalurkan gagasan-gagasan kreatifnya tersebut. Sang paman pun tak keberatan. Bahkan beliau rela membawakan potongan-potongan kayu yang sudah dianggap limbah. Tentu saja dengan seijin sang pemilik pabrik. Di samping kayu, Blanco juga mengumpulkan plastik-plastik bungkus makanan ringan yang masih cukup bagus, botol minuman, bungkus permen, dan lain-lain. Ada juga kaleng-kaleng minuman bersoda, kertas karton tempat coklat, lem, obat nyamuk, roti, make up…begitu bejibun. Dia mulai merangkainya dalam ide-ide yang sangat cemerlang. Alhasil, terciptalah vas bunga, lampion, tempat alat tulis, kartu ucapan selamat, botol pasir warna, frame foto, dan masih banyak lagi kreasi yang ditelorkan oleh dua orang ini. Semua benda bekas tersebut disulap menjadi barang dengan daya guna baru.

Kemudian Blanco mengunjungi Pak Tomy dan menjelaskan ide yang diperolehnya. Ternyata Pak Tomy yang kaya-raya dan baik ini sangat mendukung gagasan Blanco. Bahkan beliau memberikan bantuan materi kepada Blanco untuk mengembangkan kegiatannya tersebut. Blanco sangat berterima kasih kepada Allah yang telah mempertemukannya dengan orang sebaik Pak Tomy.

Pada akhirnya, ide Blanco yang sangat brilian ini berkembang menjadi sebuah bisnis yang bisa menghidupi dirinya dan sang paman. Bahkan ia mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan pada lingkup sekolah terfavorit di kotanya. Kini Blanco bukan loper koran lagi yang mengenakan pakaian lusuh. Namun, ia tidak lupa akan orang-orang di sekitarnya. Dia merangkul anak-anak putus sekolah dan kehilangan pekerjaan untuk turut serta bergabung dalam misinya menyelamatkan bumi dari sampah. Ia pun sering dipanggil di berbagai instansi untuk mengisi sesi kewirausahaan. Dia sangat senang menjalani profesi barunya, bukan semata-mata hal tersebut bisa mendatangkan keuntungan finansial berlipat, tetapi lebih dari itu. Ia merasa bahwa dirinya hidup di era yang menuntut ia untuk mampu membuat udara di Indonesia tak berkurang kesejukannya hanya karena limbah yang bertebaran di seantero negeri. Paling tidak, apa yang dilakukan dia kini adalah sebagai darma baktinya pada Indonesia. “Save our earth!” Demikianlah yang sering digemborkannya.

Rembang, Thursday, May 06, 2010 [10.00 pm]

Kamis, 08 April 2010

MALIN KUNDANG

Once upon a time, a family lived in Sumatera coastal area. The family had a son named Malin Kundang. Since their life condition was very awful, and then Malin’s dad decided to go to another country.

There was a big hope for Malin and his mother that one day his dad [and her husband] would come back home bringing a large amount of money which they hoped it would be enough for buying their daily needs.

After Malin Kundang had come of age, he thought of how to make a living [earn money] in a foreign country. He hoped, after coming back home, he would be a very rich man. He eventually joined sailing with a successful trading ship’s captain of his hometown.

During his days in the ship, Malin Kundang learned many things dealing with nautical from all experienced hands aboard [experienced crews]. He learned them so hard that he was very skillful in this field.

He had been visiting many islands. On one day, the ship he was sailing with was unexpectedly attacked by pirates. They robbed all trading things inside the ship. Almost all hands aboard and the people joined this sailing were murdered. Luckily, Malin Kundang was not killed by the pirates, as when this took place, he hided in a small room that was put out of sight by a timber.

Malin Kundang was floated in the middle of the sea until the ship he rode in went aground [casted ashore/dumped off at] a coastal area. With his remaining energy, he walked, heading for the nearest village. Reaching the village, Malin Kundang was helped by its people after he told them about what happened to him. The village where he was dumped off at was very fertile. By his perseverance and tenacity in working, he successfully achieved his dream to be a very rich man. He had lots of trading ships and their all hands aboard in abundance, more than 100 persons. Getting very rich, Malin Kundang afterward married a girl.

After several years of marriage, Malin and his wife sailed with his huge and gorgeous ship accompanied by his all hands aboard and many guards. Malin Kundang’s mother that was waiting for her son every single day saw the big and beautiful ship entering the seaport. She saw two people standing at the deck. She really knew for sure that they were Malin Kundang and his wife.

Malin Kundang then got off his ship. He was welcomed by his mother. The closer she walked forward, the clearer she saw many wounds on his right arm. She was really sure that the man she approached was Malin Kundang. “Malin Kundang, my son, why have you been away for so long without notifying me?” said his mother by hugging Malin Kundang. But, he immediately released himself from her hug and pushed her away. His mother fell down. Suddenly, he spoke in a rude way,”Who are you? I don’t know who you are! Don’t say that you are my mother!” He yelled at her. Malin Kundang acted as if he was not acquainted with his mom, because he was very embarrassed to have such an old mother that wore ragged clothes. “That woman is your mother?”, asked his wife. “No! She is only a beggar that pretended to be my mom so that she will get much money from me”, replied Malin Kundang. Hearing his statement and being treated impulsively/rashly/capriciously/arbitrarily/in a high handed and unfair fashion, his mother was very furious. She never fathomed that his son would be such a faithless son. Because of her fury, his mother gazed upward and lifted her palms of her hands and said, “Oh, God, if he is truly my son, I curse him to be a rock”. Not long afterward, the wind blew very hard and thundered. Sudden storm came smashing and destroying his ship. Malin Kundang’s body gradually became stiff and sooner or later he turned to be a rock.

Rembang, 5th of April, 2010

KEONG EMAS [THE GOLDEN SNAIL]

In Daha Palace, there were two beautiful princesses, named Candra Kirana and Dewi Galuh. Both of them lived happily and belonged to a well-to-do [prosperous] king family.

One day, a very handsome prince coming from Kahuripan Palace, named Raden Inu Kertapati, had been visiting Daha Palace. His purpose of coming to Daha Palace was to ask for Candra Kirana in marriage. He was warmly welcomed by Emperor Kertamerta [Raja Kertamerta], and after some time, Candra Kirana was betrothed/affianced/engaged by Raden Inu Kertapati.

This engagement, in fact, made Dewi Galuh envious because she felt that Raden Inu Kertapati [matched an] was suitable for her. For that reason, Dewi Galuh went to an old sorceress. She asked the sorceress to practice her black magic on Candra Kirana to be a girl that was very disgusting and expelled [exiled/droven away/casted out of] from Raden Inu. The sorceress agreed with her request. She practiced her black magic on Candra Kirana to be a golden snail [keong emas], then she throwed it away on a river.

One day, a very old woman searched for fish by net, and the golden snail was picked up in her net. She brought it home and placed it in a large water jar. On the next day, again, the woman searched for fish in a river, but she got no fish at all. Then, she decided to go back home. Reaching at home, she was very surprised finding some kinds of delicious meal on the dinner table. She asked for herself,”Who has cooked such delicious meals?”.

This happened as well on the next days. She then peeped at what actually happened when she was going to find fish. She pretended to go to the river as usual, then she went to the rear side of her house to peep at inside. After several minutes, she was very surprised as the golden snail inside the large water jar changed to be a very beautiful girl. The girl then cooked and served the meals on the table. Because the old lady was very anxious and curious, she made herself brave to address the beautiful girl. “Who are you, the beautiful young lady, and where are you from?” asked the very old lady. “I am the Princess of Daha Palace. My sibling is envious of me and she asked a sorceress to practice her black magic on me”, said the golden snail. After answering the old lady’s questions, Candra Kirana turned to be a Golden Snail, and the old lady was surprised all over again.

On the other side, Raden Inu Kertapati endeavoured to seek out Candra Kirana who had disappeared for a long time. He disguised as a common people. The sorceress finally knew and changed herself to be a crow to bring misfortune on [bring about the downfall of] Raden Inu Kertapati. He was very surprised as he came across a crow speaking and knowing his purpose. He considered that the crown had a divine power. The bird deceived by perverting [leading astray/depraving] him. On the way, he met a very old man that was very starving. Raden passed him something to eat. The very old man was in fact a kind-hearted person who had a divine power. He helped Inu from the wicked crow.

The man hit the crow by a pole, and it turned to be smog. Then, the man notified Raden Inu where Chandra Kirana was. He asked Raden Inu to go to Dadapan Village. After walking for days, Raden Inu reached the Dadapan Village. He saw and approached an old house. He asked for some water as his supply was gone. In this house, he was very surprised, because in the back of the window, he saw Candra Kirana cooking. At last, the black magic which the sorceress practiced on Raden Inu was gone due to this reunion. Raden Inu picked his fiancée and the very old lady who had been taking care of her up to Daha Palace. Arriving at the palace, Candra Kirana told Raja Kertamerta about what Dewi Galuh had done.

The king made an apology to Candra Kirana. On the other hand, Dewi Galuh got punished. Since she was very scared, she ran away to the wood. Candra Kirana and Raden Inu got married in a very marvelous wedding party. They lived blissfully for good.

Rembang, April 6, 2010
By Nanik

Pengikut