Kamis, 03 Juni 2010

Rembang – Jepara – Semarang – Solo – Semarang – Rembang [Part 2]

Dia bangun lebih awal. Mungkin sekitar jam empat pagi. Setelah mandi dan solat Subuh, dia membangunkan aku dari tidur. Jam setengah lima lebih. Aku menguap dan masih nemplok di bantal, nggelesot di kasur. “Mas, kenapa pagi sekali, sih? Masih ngantuk “. Namun, akhirnya aku memaksa juga untuk beringsut dari pembaringan setelah berjuang keras melawan rasa kantuk yang begitu hebat.

Setelah mempersiapkan beberapa baju dan perangkatnya serta make up ala kadarnya, aku segera menyambar handuk dan menuju ke kamar mandi. Lumayan buru-buru. Setelah solat Subuh, aku merapikan diri,pake T-shirt plus cardigan hitam dan jeans. Tak lupa pula aku persiapkan MP5 dan kamera bila mungkin di tengah-tengah travelling, kami bisa menemukan moment-moment bagus untuk diabadikan.

Tepat pukul enam pagi kami berangkat dengan ransel hitam Export di punggung. Kami naik angkot yang kebetulan lewat, turun pasar Rembang. Kami masih berjalan lagi sekitar seperempat jam atau lebih untuk mencapai Taman Kartini [tentu dengan gerak yang lumayan cepat karena harus mengejar waktu - suamiku masuk kerja di saat para pegawai negeri libur]. Kurang lebih setengah tujuh, bus Sarang-Tayu berhenti di depan muka kami berdua. Kami sepakat naik bus tersebut [walau sebenarnya aku ingin menolak karena bus tersebut terkenal lemottttt - tapi mo gimana lagi, adanya bus yang langsung ke Tayu cuma itu :-(].

Perjalanan dimulai. Lamaaaaaaaa bangeeeeet...Di tengah-tengah pas sampai Kaliori, sopirnya kencing dulu lagi. GubraG!!! Sepanjang jalan menuju Juwana aku terpekur membisu [bukannya tidur, Nok? ]. Sekarang menuju Tayu. Tak banyak yang aku lihat di sana. Hanya sawah, ladang, dan beberapa rumah. Benar-benar suasana desa. Gak bisa bayangin, deh, gimana klo' malam...Jalannya sempit, nggak semulus jalan yang biasa aku lewati sehari-hari. Banyak lubang di kanan kiri. Tak banyak pula alat transportasi yang kutemui. Setelah hampir dua jam, sampai pula kami di penghujung Kota Tayu. Habis. Kami makan sebentar karena perut belum terisi sedari tadi pagi.

Trus lanjut lagi perjalanannya ke Jepara [gak bisa mengingat dengan jelas - Bangsri, mungkin]. Naik bus tiga perempat lagi. Di sepanjang jalan yang berkelok-kelok, sawah, ladang, dan hutan yang menghijau ranau membentang. Pohon karet, jati, padi...Semua terbingkai indah dalam sebuah kekuatan harmoni yang begitu luar biasa. Desiran sang bayu mengepakkan ekor rambutku. Jadi ingat waktu ikut Java News, sebuah tabloid pendidikan yang berbasis di Solo. Ingat waktu jalan-jalan cari berita ke Temanggung, Wonosobo, Banjarnegara, Banyumas, Purwokerto, dan Cilacap. Semua hijau. I do luv green .

Hmmm...lumayan jauh juga untuk mencapai kotanya. "Tenang, sebentar lagi sampai. Setengah jam ke depan". Busyet, lama juga...

Setelah menanti selama setengah jam dalam bus yang membawa kami berdua, kami belum sampai juga di tempat tujuan. Wedewwwww... "Masih berapa jam lagi, Mas?", tanyaku dengan intonasi sedikit tak sabar. Dia tertawa kecil. Akhirnya setelah dua jam perjalanan dengan bus yang super lemot, kami sampai juga di dekat Polres [lha emang mo lapor kehilangan barang? Hape lagi, tah??? ]. Cari penginapan di dekat situ, kami harus meminta tukang becak lagi untuk mengantar kami. Hfffff...Udah jam sebelas [pagi ato siang??]. Menjelang Solat Jumat. Aku nggak tau pasti, berapa ongkos yang dikeluarkan untuk perjalanan yang cukup melelahkan ini.

Setelah mengantarkan aku ke penginapan, bayar, dan meletakkan ransel di kamar, suamiku balik lagi ke arah PLTU Tanjung Jati, Jepara. Jauuuuuuuuuhhh. Kami sudah melewati jalur ke arah proyek tersebut tadi. Mpe sana jam berapa, ya?

Dia bilang mau balik dari proyek jam lima sore. Huh...di kamar aku termangu dalam sepi. Mendengarkan musik via MP5 [lagu-lagunya Jordin Sparks - I got two favorite songs, i.e. No Air and No Parade] sambil tiduran, akhirnya ketiduran juga [baca: tidur dengan tidak sengaja-Red]. Sebelumnya aku sempat jeprat-jepret "hal-hal" di sekitar sana.

Pukul setengah dua siang bangun. Lapar menyerang. Aku masih diam. Cuma makan wafer satu. Selesai solat Zuhur, aku masih bermalas-malasan di bed [sambil nyusun strategi kemana sebaiknya aku cari makan]. Kebetulan kamarku di atas. Aku melongok-longok sebentar ke bawah. Aha!!! Great!!! Di depan ada Indomaret plus warung jus. Aku turun. Setelah nitip kunci ke resepsionis, aku beringsut keluar, beli sabun, pasta gigi, air mineral 1500 ml, majalah ... Bayar ke kasir, aku tanya tempat makan yang paling dekat. Dapat juga nih! Sayur asem is still my fave cuisine hehe... Jalan lagi balik ke penginapan.

Pukul lima sore lebih dikit lah, suami datang. Mandi, magriban, keluar cari makan. Tarraaaa..We found a stall with several kinds of chinese food!! But we decided to order nasi goreng. Guess what!! It's soooo delicious! Sayang, kurang pedas dikit.

Setelah makan malam, kami jalan kaki lagi ke arah alun-alun Kota Jepara. Nongkrng-nongkrong bentar. Pukul sepuluh malam, kami balik ke penginapan. Isya sudah, kami beres-beres buat esok harinya.

Pukul lima pagi kami bangun. Mandi, subuhan, trus check out. Naik becak ke terminal [padahal deket, dientol ongkosnya!], cari bus ke arah mess suami [proyek masih 10 km lagi dari mes]. Yah...ternyata bus tersebut lewat alun-alun. Sial! Kena deh dikerjain ma tukang becak & petugas penginapan. Masuk ke arah mess, kami masih harus pake angkot lagi, kemudian jalan kaki. Lumayaaaaaaaan...olahraga! Akhirnya sampai juga.

Kenalan dengan bapak mess, mbak yang jaga mes, dan teman-teman suami, trus sarapan. Ditinggal kerja lagi duehhhh...Di mes aku cuma nonton tivi plus tiduran [eh, tidur beneran]. Tengah hari makan siang di mes pake ayam goreng plus tumis kacang. Solat Zuhur, tidur lagi...Bosen!!!

Pukul tiga sore suamiku kembali dari kerja. Tunggu Asar hingga setengah empat, trus kami siap-siap berangkat ke Semarang. Jalan kaki sampai ke gang depan, lurus lagi hingga di halte bus. Naik bus kecil [sampai mana...lupa nama tempatnya], dilanjut naik bus tiga perempat headed towards Semarang. Bener-bener. Bus full, bau keringat di sana-sini. Laju biasa [mendekati lemot]. Di tengah perjalanan, kalau gak salah di Demak, kami dioper ke bus besar [Lasem - Semarang]. Full juga! Alhamdulillah, akhirnya kami dapat tempat duduk. Thanks, God!

Kami mencapai Terminal Terboyo pukul setengah tujuh malam. Kami berdua menunggu bus jurusan Solo sambil ngobrol sana-sini tak karuan. Dapat juga, deh! Bandung-Solo. Ini sama juga dengan bus-bus sebelumnya. Sama lemotnya. Masuk tol, baru bus melaju cukup kencang. Enak-enak menikmati udara dan pemandangan Semarang yang hilly di malam hari, tiba-tiba bus berhenti. Ternyata dia mau nampung manusia-manusia operan dari bus sebelumnya yang akan kutumpangi, tapi gak jadi. Untung saja. Bus di depan busku mogok. Yah...full lagi, deh! Dan pukul sepuluh malam lebih, kami sampai di Kota Solo tercinta. 

Aku dan suami naik ojek menuju ke rumah om suamiku yang berprofesi sebagai dokter [kaya'nya juga dosen di UNS]. Kami bermalam di sana. Bangun di pagi hari, bercengkerama sebentar, jeprat-jepret, trus ke Pasar Nonongan, PGS, dan Keraton Solo diantar sepupu suamiku dan pacarnya. What a gr8 day!!!!

Pukul setengah tiga sore. Kami mengakhiri perburuan di Solo. Jam tiga naik bus patas Solo-Semarang. Hujan. Makin sejuk. Setengah tujuh kami sampai di Terboyo. Langsung kami berdua berburu Sinar Mandiri. Dan tiga setengah jam berikutnya kami menginjakkan kaki di rumah tercinta [rumah ortu hehe].

From Rembang with Love, June 3, 2010



Minggu, 30 Mei 2010

Rembang – Jepara – Semarang – Solo – Semarang – Rembang [Part 1]

Dua hari sebelum berangkat ke Jepara, aku sempat berantem dengan suami. Alasannya, dia nggak bisa pulang karena perusahaan tempat dia bekerja mengharuskannya untuk overtime alias lembur pada tanggal 28 Mei 2010 yang tercatat sebagai hari libur nasional [peringatan Waisak bagi umat Buddha] dan pada 29 Mei 2010. Padahal dia uda ngajuin cuti jauh-jauh hari sebelumnya. Yah…emang nasib…disyukuri aja. Hehe…

Mungkin karena ultimatum, bahwa aku akan pergi sendiri hari Sabtu malam [saat dia pulang] jika nanti tanggal 28 dan 29 Mei tak bisa menikmati liburan bersama, akhirnya suamiku memutuskan untuk pulang ke Rembang pada Hari Kamis malam setelah kerja, tanggal 27 Mei 2010, dan akan kembali ke Jepara lagi sebelum cahaya mentari merekah di ufuk timur, bersamaku. Dia membonceng temannya yang juga pulang ke Lasem [satu jalur dengan Rembang] naik motor.

Kira-kira pukul tujuh malam [aku ingat, waktu itu aku masih di rumah Lina, bantu dia nulis etiket undangan, Adzan Isya’ berkumandang], suamiku kirim pesan bahwa dia udah sampai Tayu, tapi sial. Motor yang ditungganginya berdua dengan temannya mogok. Terpaksa mereka berdua nuntun. Maksud hati cari bengkel, tapi nggak ketemu sama sekali. Mana daerah situ super hitam pekat, sepi. Hanya ditingkahi suara binatang malam dan desiran sang bayu. Terakhir suamiku pesan, “Sabar ya, kuku [panggilan untuk “aku”] pasti kembali ke Rembang malam ini. Sory, hp lowbat”. Aku balas pesan itu dengan, “ttdj, mumu sayang [hati-hati di jalan, sayang]”.

Aku pulang dari rumah Lina kurang lebih pukul setengah sembilan malam. Setelah istirahat, aku mandi [makan uda di rumah Lina, sekalian buka puasa]. Lupa pukul berapa aku selesai. Mungkin sekitar pukul sepuluh. Kemudian solat Isya, tiduran sambil tunggu informasi terakhir dari suami. Aku kirim sms ke nomor dia yang lain dengan harapan handphone satunya tetap nyala, tetapi nihil. Tak ada balasan sama sekali [jelas aja, wong not delivered alias pending kok T_T]. Aku telepon kedua nomor hingga berkali-kali. Sama. Nggak nyambung. Aku melirik ke jam tangan yang sengaja aku letakkan di atas keyboard PC dekat pembaringan dan jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sebelumnya aku sempat ketiduran sebentar, menanti dalam kamar mungilku sendiri. Dalam gelap dan gerah. Aku mulai putus asa. Aku takut terjadi apa-apa dengan suamiku. Aku mulai terisak. Menangis di keremangan malam. Semua ini akibat keegoisanku. Ya, aku teramat egois karena telah memaksanya balik ke Rembang dan menghabiskan liburan bersamaku. Aku terus menahan dadaku yang semakin tersengal dan mengusap air mata yang tak berhenti bercucuran. Aku kirim pesan melalui sms ke Lina, menceritakan bahwa suamiku [dia kenal juga dengan suamiku] belum pulang dari tadi. Sedih. Lina membalas. Kebetulan dia belum tidur. Dia mengatakan bahwa sebaiknya aku membaca Surat Al-Fatihah sebanyak tiga kali [kalau bisa tanpa bernafas], memohon pertolongan Allah Yang Maha Agung, agar tidak terjadi hal-hal buruk dengan suamiku. Aku turuti anjuran tersebut.

Tepat pukul dua belas malam, aku mendengar derap sepatu dan pintu depan diketuk. Yess!!!! Suamiku datang dengan selamat. Alhamdulillah, Ya Allah…!!! Aku memeluk suamiku dengan sangat erat dan mencium pipi serta keningnya berkali-kali. “Huhhh, dasarrrrr dodolllll, bikin orang panik aja!!!” Dan dia pun tersenyum walau lelah jelas tertoreh di wajahnya.

Rabu, 26 Mei 2010

March 16, 2010 in My Hometown


Rembang...A remote area....

Pada tanggal 16 Maret 2010 kemarin-tanggal merah tuh-aku, suami, dan satu teman [Lei] mengunjungi Taman Rekreasi Pantai Kartini. Sehari sebelumnya kami sempat "berdebat", bingung mutusin, kota atau lokasi mana yang akan kami pilih untuk mengisi satu hari libur. Kudus, Lamongan, Semarang ... Hffff... Setelah kami pikir-pikir, karena waktu cuma sehari, daripada waktu habis di jalan, akhirnya kami putuskan untuk stay di Rembang saja.


After washing some clothes [Lei sent me sms before that she asked me out to go to beach-Kartini Beach], Benny-my husband-and I headed for Lei's base camp by bicycle. Di rumah kami sempat bingung.


"Kita mo ngapain ya, Mas, di pantai? Sepi gitu. Masa' mo berjemur? Kan uda item..hehe..."
"Ya udah, deh..Nurut aja...".


Kami nitip sepeda di base camp Lei. Ke pantai, kami menggunakan dokar. Kebetulan base camp dia dekat dengan pasar Kota Rembang. Banyak kuda penarik kereta [jiaaaaaahhh...sok eksklusif bahasanya ^_^]], sekalian ngenalin ke dia alat transportasi yang mungkin gak bakal ditemui di hometownnya [secara...dia dari Chengdu, China]. Uhhhh....Sepanjang jalan semua orang nengok ke dia...ne ada "bule" kesasar kali ya...:-D


Setelah bayar sang kusir sebesar enam ribu rupiah, kami mulai memasuki pelataran parkir taman [masih di luar tuh]. Benny cari air mineral botol dua buah buat bekal di dalam lokasi rekreasi.


Tiket masuk waktu itu empat ribu rupiah per kepala [abis tu naik jadi enam ribu per gundul, sekarang turun lima ribu rupiah per batok hehe...bingung...ne tiket gak pernah jelas]. Alangkah terkejutnya aku setelah mengetahui isi taman. Sudah nggak seperti dulu lagi...Sekarang sudah lumayan banyak arena bermain buat anak-anak ataupun dewasa [meskipun tiap kali memanfaatkan fasilitas tersebut kita musti bayar lagi sesuai tarif...ya eyalaaaah...masa' mo gratisan mulu...PNS aja bayar :-D]. Dalam hati aku bersyukur bahwa Rembang sudah mengalami perubahan dan bukan kota yang super mati seperti di jaman baheula. Setelah tanya sama seorang petugas wahana rekreasi Dampo Awang Beach ini [dia yang ngawal kami bertiga, termasuk motretin kami, waktu naik Banana Boat-Rp.15.000,- each person], ternyata pengadaan banana boat, flying fox, waterball, dan arena bermain lainnya sudah dimulai kurang lebih sejak dua bulan yang lalu [terhitung sejak 16 Maret 2010]. Dalam hati, wedewwwww...katrok juga ya aku. Tahunya cuma PLTU dengan batubara terpampang luas dalam sekian hektar...T_T


Akhirnya pilihan pertama jatuh pada flying fox. Kloter pertama berangkat, Benny. Kedua, Lei. Ketiga, sang penulis. Dua kloter pertama mendarat dengan sukses. Nah, kloter ketiga...wuwuwuwuwu...uda hampir sampai, hook-nya nggak mo jalan. Untung petugasnya baik [haiaaaaaaaaah...gak pa-pa lah sekali-kali ngelem, bukan menghujat trus :-p]. Usut punya usut, "Emang berat mbaknya berapa? Kok gak mau jalan?" Aku menjawab sambil cengar-cengir. "Hehe, malu ditanyain berat." Harusnya aku masuk ke arena flying fox-outbound untuk anak-anak saja haha.


Sesi berikutnya kami daftar ke loket Banana Boat. Sambil nunggu lifejacket-nya terkumpul, kami duduk-duduk menikmati semilir angin pantai sambil ngemil. Setelah pelampung ada, prikitiewwww...petugas bilang, "Mas dan Mbaknya bawa baju ganti, nggak? Tar basah semua lho!". Wah..wah..o'on juga kita...mo nyeburin diri ke laut nggak bawa baju ganti...Apa kata duniaaaa???


Akhirnya kami putuskan untuk sewa baju renang di loket kolam renang, dekat loker, sekalian titip tas, HP, dompet, dan baju yang sebelumnya nempel di badan. Sambil berjingkat-jingkat saking panasnya telapak kaki kami waktu menginjak tanah akibat sengatan sinar surya, kami berjalan turun ke laut. Semua lengkap. Baju renang, pelampung, dan kamera. Ambil foto dulu sebelum di-lheb-lhebin ke air. hehe...


Gilaaaaa...First adventure [biarin...orang aku gak bisa renang :-p]. Hampir mampus rasanya tenggelam dalam air. Mulut, telinga...semua full air asin...Tiga kali [atau mungkin lebih] kami dibanting oleh motorboat. Mau sekencang apapun kami pegang kendali, nggak ada artinya haha...Terakhir bantingan, kami dibiarkan oleh petugas yang bawa motorboat...Sial hehe...


Lalu kami naik dari laut menuju kolam renang, nyeburin diri lagi. Di situ kami lebih banyak ngobrolnya sembari membasuh rambut yang kering oleh air laut. Bingung lagi. Lepas dari kolam kami mau pakai daleman [baju dalam, breast holder & cd-red] apa???? Akhirnya aku dan Lei "memaksa" Benny untuk ganti baju dulu kemudian beli "perkakas" tersebut. Poor Benny :((


Kami pulang setelah mendapatkan "perkakas" itu [mpe kering nungguin dapet 'itu'. Hehe..thanks very much, anyway^-^]. Nggak mandi atau sekedar basuh2 lagi...[Ih jorse :-D]
Lanjut cari makan siang di RM Kanton. Setelah kenyang, kami masih belum puas menghabiskan liburan yang cuma sehari itu. Benny called Cafe Kirani. Lei recommended. Kami berangkat kesana untuk nyanyi-nyanyi nggak jelas. Yang penting enjoy. Bus Sarang Tayu jadi pilihan transportasi [emang adanya cuma itu hehe...nggak ding @_@]. Puas di sana selama kurang lebih dua jam, kami balik. Naik apa ya??? Hfffffffffff...Untung jam 5 sore-mungkin lebih-ada bus kecil. Turun samping Hotel Kencana, jalan ke pasar. Lumayan...lumayan jauuuuuuuuuuhhhh...Sampai base camp pas magrib. So tired T_T but fun ^_^.

Jumat, 21 Mei 2010

Lagu dan Kord Gitar ” Your Love is A Lie “ - Artis ” Simple Plan “

Em G
I fall Asleep By The Telephone/
D A Em
Its Two Oclock and Im Waiting Up Alone
G D A
Tell Me
Where Have You Been?
Em G
I found A Note With Another Name
D A Em
You Blow A Kiss But It Just Dont feel The Same
G D
cuz I Can feel That Youre Gone
C G D G
I Cant Bite My Tongue forever
While You Try To Play It Cool
C G D
You Can Hide Behind Your Stories
But Dont Take Me for A fool!

Em G D C D
You Can Tell Me That Theres Nobody Else
Em G D C D
You Can Tell Me That Youre Home By Yourself
Em G D G C D
You Can Look Into My Eyes and Pretend All You Want
But I Know
I Know
Em G D A
Your Love is Just A Lie!
Em G D A
Its Nothing But A Lie!

Em G
You Look So Innocent

D A
But The Guilt in Your Voice Gives You Away
Em G D A
Yeah
You Know What I Mean
Em G
How Does It feel When You Kiss When You Know That I Trust You
D A
And Do You Think About Me When He fucks You?
Em G D
Could You Be More Obscene?
C G D G
So Dont Try To Say Youre Sorry
Or Try To Make It Right
C G D
And Dont Waste Your Breath Because Its Too Late
Its Too Late!

Em G D C D
You Can Tell Me That Theres Nobody Else
Em G D C D
You Can Tell Me That Youre Home By Yourself
Em G D G C D
You Can Look Into My Eyes and Pretend All You Want
But I Know
I Know
Em G D A
Your Love is Just A Lie!
Em G D A
Its Nothing But A Lie!

Em G D C D
You Can Tell Me That Theres Nobody Else
Em G D C D
You Can Tell Me That Youre Home By Yourself
Em G D G C D
You Can Look Into My Eyes and Pretend All You Want
But I Know
I Know
Em G D A
Your Love is Just A Lie!
Em G D A
Its Nothing But A Lie!

Kamis, 20 Mei 2010

TK ABA 04 Semarang Tanamkan Akidah Islam dan Wawasan Umum

TK ABA 04 yang terletak di Jalan Wonodri Baru VI No. 18-19 Semarang ini merupakan salah satu bentuk amal usaha ’Aisyiyah Ranting Wonodri Cabang Semarang Selatan, di samping Taman Pendidikan Al-Quran At-Taqwa ‘Aisyiyah dan Kelompok Bermain ‘Aisyiyah 02. Sekolah ini menyelenggarakan dua kegiatan, yakni kegiatan rutin dan penunjang. Kegiatan rutin berupa kegiatan belajar mengajar di kelas, doa di sekolah, upacara 17 Agustus, 10 kali praktek ibadah selama semester II, terbagi menjadi 5 kali di sekolah dan 5 kali di masjid. Kegiatan penunjang direalisasikan dalam ekstrakurikuler seperti drumband, menari, Bahasa Inggris, komputer, menggambar, dan sempoa. Khusus sempoa diadakan setelah jam pelajaran usai serta diperuntukkan bagi yang berminat saja. Di samping itu, TK ini juga mengadakan outbond, peringatan hari besar Islam, mengenalkan program polisi sahabat anak, serta kunjungan ke tempat-tempat penting seperti PIP/BPLP Semarang, kantor pos, dan museum. Sebagaimana dikemukakan oleh Kepala TK, Dra Nadhifah, kunjungan tersebut ditujukan untuk memberikan tambahan wawasan kepada peserta didik selain dasar akidah Islam yang diperoleh dari kegiatan keagamaan. Dengan demikian tujuan sekolah yang ingin membentuk akhlak dan kepribadian anak sesuai dengan nilai-nilai islam, mengembangkan kemampuan dasar anak secara optimal, serta menuntun anak agar mampu melaksanakan praktek ibadah bisa tercapai. Kegiatan lain yang senantiasa diadakan sekolah di antaranya adalah Hari Kartini setiap 2 tahun sekali di mana siswa mengenakan kostum daerah yang dilanjutkan dengan lomba fashion show. Juga, program gosok gigi satu minggu sekali untuk semester 2 dan makan bersama setiap sabtu. Dana ditanggung oleh pihak sekolah.

TK ini menetapkan rentang umur peserta didik minimal 3,8 tahun. Namun, rata-rata siswa berusia 4 tahun ke atas. Dari tahun ke tahun jumlahnya selalu memenuhi target. Tahun 2007 ini sekolah memiliki 172 siswa yang terbagi menjadi 8 kelas, yakni kelas A (4 kelas) yang melaksanakan KBM dari jam 07.15 hingga 10.00 WIB dan kelas B (4 kelas) dari pukul 07.15 sampai 11.00 WIB. Tenaga pendidik terdiri atas 8 guru kelas reguler, 4 guru TPQ, serta kepala sekolah. Lulusan TK ABA 04 ini banyak diterima di SD favorit seperti SD Sompok dan SD Al Firdaus Semarang. Fasilitas yang disediakan cukup menarik, di antaranya alat bermain luar dan dalam serta perpustakaan untuk semester 2, sedangkan semester 1 masih dalam tahap pengenalan.

Telah banyak prestasi yang diraih oleh TK ini. Mayoritas dari lomba mewarnai. Namun, dalam partisipasi kegiatan, Dra Nadhifah menuturkan, ”Kita lebih selektif. Tidak semua kegiatan kita ikuti”. Dalam Bulan Ramadlan tahun ini, sekolah mengadakan kotak amal setiap hari. Tanggal 25 – 26 kemarin para siswa juga melakukan kunjungan pendidikan ke kantor pos. Sebelumnya mereka membuat kartu lebaran untuk selanjutnya dikirim via pos. Di samping itu, adanya panitia zakat fitrah di mana para siswa sendiri yang akan menyerahkan zakat tersebut kepada kaum dhuafa serta praktik solat idul fitri juga menjadi aktivitas rutin menjelang lebaran. (eby/ny)

SD Pleburan 03 Semarang - Sekolah Rindang Sarat Prestasi

Jumat, 07 Mei 2010

BLANCO SANG JUARA

Blanco nama pemuda kecil itu. Tinggi badannya rata-rata anak Indonesia yang tengah berumur 12 tahun. Dia hidup bersama pamannya di sebuah kota. Keduanya adalah pekerja keras. Tuntutan hidup telah membuat mereka tak melewatkan kesempatan yang teramat bagus agar mereka bisa terus bertahan hidup. Blanco bukanlah anak dari kalangan orang berada. Kedua orang tuanya telah lama meninggal dunia di saat dia masih berumur tujuh tahun. Tiap hari ia harus berjuang keras agar terus mampu melanjutkan sekolah, sebab pamannya telah menekankan betapa pentingnya pendidikan bagi kehidupan Blanco kelak meski sang paman sendiri tak pernah mengenyam bangku sekolah.

Selepas pulang sekolah, Blanco kerap menjadi loper koran, sedangkan pamannya menjadi buruh pada pabrik kayu dengan penghasilan yang terbilang tidaklah seberapa. Namun, keduanya merasa bahagia. Bahkan, walaupun lelaki, Blanco sangat pandai memasak. Sang paman memanfaatkan lahan yang tidak begitu luas di samping rumahnya untuk menanam sayuran dan bumbu dapur lainnya.

Dari pekerjaannya sebagai loper koran, Blanco mendapatkan banyak informasi sebab ia selalu mencuri-curi kesempatan untuk terus mengikuti berita hangat di negeri ini melalui koran yang dibagikan khusus kepada dirinya oleh sang pemilik agen. Pak Tomy, pemilik agen, sangatlah terkesan dengan Blanco karena pemuda kecil ini sangat rajin, jujur, dan tidak pernah sedikitpun mengeluh. Bahkan beliau senantiasa memuji Blanco karena anak yang satu ini tergolong cerdas. Oleh karena itu, Pak Tomy selalu menghadiahkan satu koran di samping ‘gaji’ untuknya.

“Bapak lihat kamu sangat rajin, jujur, dan tak pernah mengeluh. Ambillah satu koran agar kamu senantiasa memperoleh informasi ter up-to-date”, kata Pak Tomy dengan penuh kelembutan.

“Terima kasih, Pak. Semoga Allah senantiasa membalas budi baik Bapak,” sahut Blanco.

Suatu hari, sambil menjajakan korannya, Blanco sempat membaca berita bahwa ada sekelompok warga tinggal di bawah naungan sampah yang begitu menggunung. Entah berapa meter tingginya. Ketika hendak direlokasi, warga menolak dengan alasan hanya di situlah mereka bisa mengais rezeki. Tak berselang beberapa hari dari tawaran itu, terjadi bencana yang benar-benar membuat warga tersebut kehilangan kerabat dan rumah-rumah reyot mereka. Bukit sampah longsor dan menimbun rumah-rumah warga di pagi buta tatkala semua orang masih terlelap dalam mimpi. Blanco terhenyak sesaat, kemudian menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Dia merasa sangat prihatin dengan keadaan mereka.

“Sampah ternyata telah membawa malapetaka. Seandainya saja mereka sedikit sadar kalau sampah, terutama plastik, akan sangat merugikan, tentu mereka tidak akan bertindak sebodoh ini ketika ditawari akan direlokasi”, gumamnya.

Setelah kejadian itu, di sela-sela kegiatan sekolah dan loper koran, Blanco memutar otak bagaimana caranya agar warga sekitar sadar akan bahaya sampah. Dia mulai menyisihkan sebagian kecil hasil kerja kerasnya untuk menggunakan jasa internet yang hanya dua ribu rupiah di warnet seberang sekolahnya. Dia menggali informasi dari sana tentang berbagai hal yang bisa dilakukan guna meminimalisasi kuantitas sampah atau limbah. Setelah Blanco mendapatkan beberapa banyak, dia mencoba mempraktikkan, di antaranya melalui kerajinan tangan. Ia mengajak pamannya juga dalam menyalurkan gagasan-gagasan kreatifnya tersebut. Sang paman pun tak keberatan. Bahkan beliau rela membawakan potongan-potongan kayu yang sudah dianggap limbah. Tentu saja dengan seijin sang pemilik pabrik. Di samping kayu, Blanco juga mengumpulkan plastik-plastik bungkus makanan ringan yang masih cukup bagus, botol minuman, bungkus permen, dan lain-lain. Ada juga kaleng-kaleng minuman bersoda, kertas karton tempat coklat, lem, obat nyamuk, roti, make up…begitu bejibun. Dia mulai merangkainya dalam ide-ide yang sangat cemerlang. Alhasil, terciptalah vas bunga, lampion, tempat alat tulis, kartu ucapan selamat, botol pasir warna, frame foto, dan masih banyak lagi kreasi yang ditelorkan oleh dua orang ini. Semua benda bekas tersebut disulap menjadi barang dengan daya guna baru.

Kemudian Blanco mengunjungi Pak Tomy dan menjelaskan ide yang diperolehnya. Ternyata Pak Tomy yang kaya-raya dan baik ini sangat mendukung gagasan Blanco. Bahkan beliau memberikan bantuan materi kepada Blanco untuk mengembangkan kegiatannya tersebut. Blanco sangat berterima kasih kepada Allah yang telah mempertemukannya dengan orang sebaik Pak Tomy.

Pada akhirnya, ide Blanco yang sangat brilian ini berkembang menjadi sebuah bisnis yang bisa menghidupi dirinya dan sang paman. Bahkan ia mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan pada lingkup sekolah terfavorit di kotanya. Kini Blanco bukan loper koran lagi yang mengenakan pakaian lusuh. Namun, ia tidak lupa akan orang-orang di sekitarnya. Dia merangkul anak-anak putus sekolah dan kehilangan pekerjaan untuk turut serta bergabung dalam misinya menyelamatkan bumi dari sampah. Ia pun sering dipanggil di berbagai instansi untuk mengisi sesi kewirausahaan. Dia sangat senang menjalani profesi barunya, bukan semata-mata hal tersebut bisa mendatangkan keuntungan finansial berlipat, tetapi lebih dari itu. Ia merasa bahwa dirinya hidup di era yang menuntut ia untuk mampu membuat udara di Indonesia tak berkurang kesejukannya hanya karena limbah yang bertebaran di seantero negeri. Paling tidak, apa yang dilakukan dia kini adalah sebagai darma baktinya pada Indonesia. “Save our earth!” Demikianlah yang sering digemborkannya.

Rembang, Thursday, May 06, 2010 [10.00 pm]

Pengikut